Cara Mengatasi Anak Rewel


 Cara Mengatasi anak Rewel


Kalau sudah punya momongan, tentu tidak asing ya dengan nyanyian satu ini. Yup! Inilah instrumen terindah untuk siapa saja yang sudah menikah. Bagi yang belum diberi jatah tentu berharap sangat akan segera hadir suara merdu dari si buah hati.

Namun, begitu bayi beranjak besar dan bertambah usia, biasanya bertambah pula kreatifitasnya. Nyayian tangisan yang tadinya dirindukan berubah jadi suara cempreng yang harus segera dienyahkan. Apalagi kalau kerewelannya disertai dengan tatrum. Gulung-gulung di lantai yang bikin malu kedua orang tuanya. 

Share kali ini murni pengalaman saya. Bukan berdasarkan teori psikologi atau nasihat dari ahli parenting. Membesarkan buah hati dengan ilmu yang minim memang sangat beresiko. Namun, saya berharap pengalaman ini bisa menjadi inspirasi untuk sesama ibu-ibu yang lain. 

Saya adalah seorang ibu dari dua orang putri. Putri pertama saya adalah Naufa Shaliha Daud. Usianya kini sudah 3 tahun 3 bulan. Putri kedua saya bernama Naura Bydzani Daud. Usianya tepat 20 bulan saat saya menuliskan artikel ini. Keduanya hanya terpaut 19 bulan saja. 

Sebagaimana anak-anak yang lain, kedua putri saya sering menangis. Bahkan tangisan mereka sempat membuat kami dua kali  harus angkat kaki dari kontrakan. Sebab para tetangga merasa terganggu. Meski keduanya perempuan namun suaranya bisa menghebohkan se-antero kota. Hehe...

Namun, seiring dengan proses pembenahan pola asuh yang kami lakukan dari waktu ke waktu, sekarang Naufa dan Naura Alhamdulillah bisa berkurang intensitas rewel bin nagisnya. Lalu, bagaimana mengatasi anak rewel, mari kita belajar bersama-sama.

Pertama, kenali penyebab anak rewel. Biasanya, anak rewel ada beberapa penyebabnya. Bisa jadi kerewelan dipicu oleh kebutuhannya yang belum terpenuhi. Misalnya lapar, haus, pipis, eek, ngantuk, dll. Bayi dan balita akan cepat sekali merespon dengan tangisan jika kebutuhannya ada yang belum terpenuhi. 

Naufa biasanya rewel kalau lapar. Berbeda dengan Naura, ia justru akan sangat rewel ketika mengantuk. Namun Naufa dan Naura kompak rewel kalau kondisi ruangan panas dan gerah.

Kerewelan bisa juga karena keinginannya belum tercapai. Hal ini dapat membuatnya kesal, marah atau uring-uringan. Misalnya Naufa sedang main bola, ternyata bolanya malah direbut sama Naura. Jadilah dua-duanya rewel. Atau Naura ingin main kejar-kejaran eh Naufa malah seneng melototi laptop dengan ipin dan upinnya. 

Jika kebutuhan dan keinginannya sudah terpenuhi namun masih tetap juga rewel, ada kemungkinan si kecil sedang dalam kondisi sakit alias tidak enak badan. Entah demam, sakit tenggorokan, kembung, sakit gigi dll. 

Kepekaan seorang ibu sangat diperlukan dalam mengidentifikasi penyebab kerewelan anak. Jika ibu keliru mengenali sebab ini, maka kerewelan anak sulit diatasi.

Kedua, setelah sebab kerewelan teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah memberikan solusi atas hal tersebut. Misalnya, jika penyebabnya adalah karena si kecil lapar, segerakan untuk menghadirkan makanan yang ia butuhkan. Begitupun jika haus. Atau jika ia mengantuk, maka harus segera dikondisikan untuk segera ditidurkan. Mungkin dengan diayun, digendong, disusui, dikeloni dan lain sebagainya. 

Tidak selalu kerewelan teratasi dengan mengalihkan si kecil pada sesuatu yang lain. Jika terkait dengan kebutuhan dasarnya, maka ia baru akan tenang ketika kebutuhan tersebut bisa dipenuhi. 

Berbeda jika yang menjadi penyebab kerewelannya adalah karena keinginan yang belum kesampaian. Rasa marah, kesal, jengkel, dan sebel, semua ini bisa dialihkan. Buatlah pengalihan yang bisa menarik perhatian si kecil. 

Suatu ketika Naufa dan Naura nangis secara bersama-sama. Rupanya keduanya bertengkar soal camilan. Naufa berniat menyuapi Naura stik bawang. Secara tidak sengaja Naura menggigit jari telunjuk Naufa. Akhirnya Naufa marah dan berganti menggigit Naura. Jadilah rumah dipenuhi tangis dua putri mungil itu. Setelah saya analisa penyebabnya dan saya coba lerai agar saling memaafkan, keduanya tetap tidak mau diam. Tetap marah satu sama lain. Bahkan suaranya kian melengking. Memanggil-manggil ayahnya untuk menjadi hakim. 

Tiba-tiba saya punya ide kreatif. Saya berteriak keras, menirukan suara auman harimau. keduanya kaget dan menatap saya keheranan. Lalu saya mulai bercerita kisah harimau dan kancil. Naufa dan Naura pun akhirnya lupa pertengkaran itu, setelah mendengar kisah seru antara harimau dan kacil tentu saja dengan ekspresi yang super lebay. Hehe...

Beda lagi kalo ternyata anak kita sakit, maka harus segera dicari obat untuk mengatasi rasa sakitnya.

Ketiga, ketika menghadapi kerewelan anak, kita harus memastikan kondisi emosi kita sedang stabil. Sehingga tidak menambah kisruh suasana. Seringkali, kita justru menambah suasana rewel bertambah hingar bingar. 

Kalau memang emosi sedang tidak stabil, sebaiknya kita ambil sikap diam dan segera berwudhu. Bisa juga meminta bantuan kepada orang tua atau pengasuh untuk menenangkan anak-anak kita. kita menghindar untuk sementara waktu sampai emosi kita tidak bergejolak lagi.

Keempat, ketika anak sedang rewel, sedapat mungkin jangan keluar kata-kata kotor, makian, atau umpatan kepada anak. Ini akan berpengaruh buruk untuk perkembangan mentalnya.

Kelima, jangan berbohong untuk membuat si kecil tenang. Misalnya, ketika si kecil terjatuh, lalu dibilang  “Oo... ini memang nakal ya...” sambil memukul-mukul lantai tempat ia terjatuh. Jika kebiasaan ini dilakukan maka si kecil akan belajar untuk mencari kambing hitam dari setiap kesalahannya. 

Katakan saja apa adanya. Misalnya “Oo... Mbak Naufa jatuh ya...” sambil mengusap-usap lututnya pertanda kita simpati, “Ya Allah... sembuhkanlah luka mba Naufa ya Allah...” sambil ditiup-tiup lukanya pertanda kita empati. Ini akan membuatnya sedikit tenang meski masih menangis. Setelah tenang jelaskan padanya, bahwa ia harus lebih berhati-hati ketika berjalan agar tidak tergelincir. “Mba Naufa... lain kali hati-hati jalannya ya, Nak. Disinikan licin, nanti kalau Mba Naufa lari-lari bisa tergelincir lagi..” sambil diusap-usap kepalanya. 

Saya sering sedih melihat ibu yang justru memukul dan menyalahkan si anak ketika ia terjatuh.

“Sudah Bunda bilang, jangan main disini! Masih juga! Rasakan akibatnya! Sambil berteriak geram.

“Berapa kali Bunda harus bilang, Haaaa!” sambil mencengkeweng anaknya

Astaghfirullah...

Keenam, jangan berjanji untuk menenangkan si kecil. Misalnya, saat si kecil menangis minta di belikan jajan. Padahal jajan tersebut tidak baik untuknya. Tak perlu dijanjikan. “Nanti kalau ayah pulang, bunda belikan 3 deh, mau...? 

Jelaskan saja apa adanya bahwa “bunda tidak izinkan mbak Naufa jajan itu sebab itu tidak bagus untuk kesehatan mba Naufa. Lihat... tidak ada label halalnya, trus ada pewarnanya, ada MSG nya”

Ketujuh, jangan mengancam si kecil agar dia mau tenang. Misalnya” Bunda hitung sampai 3, satuuu, duaaa, tiiiii...” atau “Mau diam ga? Nanti bunda panggil tukang rombeng!” ini akan membuatnya dendam kepada orang tua.

Memang menenangkan anak dengan cara-cara diatas tidak bisa instan. Butuh kesabaran semua pihak. Sang ibu, ayah, nenek, kakek, bahkan para tetangga. Namun ini terbukti efektif mengurangi tingkat kerewelannya saat berhadapan dengan kejadian serupa. Inilah beberapa tips cara menenangkan anak rewel, semoga bermanfaat ya.

0 Response to "Cara Mengatasi Anak Rewel"

Post a Comment