Tiga Rahasia dari Seorang Instruktur Menulis








Di tengah naik turunnya semangat menulis, lagi-lagi pelarian saya adalah BUKU. Beberapa bulan sebelumnya saya sudah sangat terinspirasi dengan buku Hernowo yang berjudul Mengikat Makana Update—Membaca dan Menulis yang Memberdayakan. Setelah membaca buku ini semangat menulisku mulai bangkit, yang dibuktikan dengan berturut-turut setiap hari selama beberapa bulan saya bisa menulis satu artikel sehari. Kondisi tersebut berjalan kurang lebih hanya empat bulan saja. Setelahnya mulai melemah seiring kesibukan mengurus toko yang juga menyita banyak waktu. Meski  terkadang saya menganggap itu hanya alasan saja, yang sebenarnya bisa dikesampingkan jika semangat mengikuti komitmen lebih diutamakan.
Seperti yang saya simpulkan dari seorang instruktur menulis di AS, Natalie Goldberg, bahwa Menulis itu seperti latihan berlari, semakin sering kita melakukannya, akan semakin baik hasilnya. Sesekali mungkin kita enggan untuk berlatih, lebih memilih duduk berdiam diri saja sambil menunggu ilham dan hasrat yang dapat mendorong  untuk berlari. Saat seperti ini, kita malah takkan pernah berlari, khususnya jika tubuh tidak siap dan terus menolaknya. Akan tetapi, jika kita berlari secara teratur, kita melatih pikiran untuk mengalahkan atau mengabaikan perlawanan itu. Maka lakukan saja. Dan di tengah-tengah berlari itu kita akan menyukainya. Dan ketika tiba di akhir, kita justru tak ingin berhenti. Kalaupun berhenti, kita tak sabar menanti kesempatan berikutnya.
Dulu sekali saat anak-anak masih kecil, saya lebih banyak menulis dalam bentuk diary. Dan kalaupun harus menulis serius dalam bentuk artikel, itu karena alasan memenuhi permintaan panitia sebuah acara untuk menyertakan sebuah makalah dalam acara tersebut. Atau menulis karena memenuhi hasrat untuk eksis di dunia media cetak, dengan sesekali mengirim tulisan  kepada media cetak harian yang bersangkutan. Itulah beberapa alasan saya menulis sebelum bergabung di blog ini. Dari rentang waktu menulis tahun-tahun sebelumnya yang hanya sesekali saja, ternyata mampu melahirkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan saya selama beberapa tahun tersebut. Jika dicermati dengan baik, ternyata menulis yang hanya sekali-sekali saja itu pun sudah mampu melahirkan sebuah karya berupa buku yang paling tidak kelak akan ada yang mengenangnya. Dengan alasan yang berbeda-beda tentu saja.
Hampir setahun saya rajin menulis di Kompasiana ini meskipun tidak lagi sehari satu artikel, karena berbagai alasan. Namun yang pasti dorongan untuk saya berkomitmen akan rutin menulis, salah satunya karena blog ini. Semangat dan warna-warni penulis di sinilah yang selalu menyemangati saya untuk tidak berhenti menulis. Meski belakangan saya sering terganggu dengan “errorisme” yang terjadi di Kompasiana tercinta. Bahkan sambil berkelakar saya ngomong ke suami, “Inilah hebatnya blog ini, meski sering error, tapi tetap saja orang tak berputus asa untuk mempublish tulisannya, atau minimal membaca artikel-artikel teman-teman yang lain. Dan rasanya semangat pantang menyerah itu juga lama-kelamaan mulai menghinggapi saya.
Senang karena sudah memiliki tiga modal dasar ini
Natalie Goldberg, pencetus metode revolusioner menulis bebas dan instruktur menulis terlaris di AS
Natalie Goldberg, pencetus metode revolusioner
Semangat menulis saya yang hampir setahun ini sangat intens terasa, ternyata bukanlah sebuah kesia-siaan. Mengapa? Karena setelah membaca buku “Alirkan Jati Dirimu” karya Natalie Goldberg yang terbit tahun 2005 silam ternyata mengungkap tiga rahasia seseorang bisa menjadi seorang penulis baik. Pertama, membaca yang banyak. Nah, kalau untuk urusan yang satu ini sih, sudah tak diragukan lagi. Karena dari dulu memang saya sangat suka membaca. Sampai-sampai muncul perasaan aneh dan “gatal-gatal” kalau tidak membaca dalam sehari saja.
Kedua, mendengarkan dengan baik dan cermat. Saya sering mengidentifikasi diri saya sebagai orang yang berkepribadian phlegmatis-melankolis. Meski yang dominan tetap phlegmatisnya. Dimana orang-orang yang berkepribadian seperti ini akan lebih senang menjadi seorang pendengar daripada menjadi pusat perhatian (yang berbicara). Kecuali jika diminta untuk menjadi seorang pembicara pada acara seminar atau diskusi. Saya senang memperhatikan lawan bicara dengan segala eskpresi dan intonasi suaranya ketika mereka bercerita. Karena dengan mendengarkan saya menjadi lebih banyak tahu akan sesuatu.
Ketiga, menulis yang banyak. Untuk kegiatan ini saya bersyukur sudah mulai melakukannya. Saat ini jika dihitung-hitung kasar artikel saya sudah sekitar 150-an buah baik yang saya posting di Kompasiana maupun yang di luar dari itu. Dan setelah membaca buku ini dan membaca sepertiga isinya, semangat menulis itu kembali berkobar.
Satu pesan yang akan selalu saya ingat dari Natalie, bahwa menulislah dari pikiran sendiri. Tak usah bicara soal bakat, bisa menulis adalah soal latihan yang tekun. “Bakat itu seperti sumber air di bawah tanah, tidak seorang yang memilikinya, tapi siapa pun boleh mengambilnya” ujar guru spiritualis Zen, Roshi Katagiri..

0 Response to "Tiga Rahasia dari Seorang Instruktur Menulis"

Post a Comment